The Untold Manuscript

Desiran angin menggerak-gerakkan benda itu, butiran tetes air hujan satu persatu jatuh dari benda yang kami sebut kantong kresek yang sebenarnya adalah sebuah kantong plastik hitam. Benda itu sesekali melambai lambai kecil, tersangkut di sebuah kayu atap lantai satu semenjak 3 tahun lalu.
Seorang gadis tampak tengah memperhatikan benda itu. Benda tak berarti yang memberinya sebuah kenangan. Kenangan yang nyatanya hanya bisa dikenang.
Terdengar suara berisik dari lantai dua. Beberapa gadis berseragam putih biru tampak tersenyum girang dan sesekali mengintip ke lantai dasar. Gadis-gadis puber itu meneriaki salah seorang kawannya, gadis berkerudung dengan wajah yang manis. Menunjuk-nunjuk ke arah bawah kala melihat seorang lelaki yang ternyata kakak kelas mereka.
“Rizka, itu kak Angga!” gadis-gadis itu berteriak histeris. Memperhatikan lelaki yang ditemani seorang pria di lantai satu.
Tak berbeda dengan gadis seusia mereka yang selalu histeris kala melihat seorang pria yang tengah disukai sahabatnya. Kumpulan gadis yang selalu berteriak ‘ciee’ yang…

View original post 407 more words

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: